KEANEKARAGAMAN HAYATI FLORA DI INDONESIA1)

Oleh

Cecep Kusmana2) dan Agus Hikmat3)

  1. I. PENGERTIAN ISTILAH

Istilah flora diartikan sebagai samua jenis tumbuhan yang tumbuh di suatu daerah tertentu. Apabila istilah flora ini dikaitkan dengan life-form (bentuk hidup/habitus) tumbuhan, maka akan muncul berbagai istilah seperti flora pohon (flora berbentuk pohon), flora semak belukar, flora rumput, dsb. Apabila istilah flora ini dikaitkan dengan nama tempat, maka akan muncul istilah-istilah seperti Flora Jawa, Flora Gunung Halimun, dan sebagainya.

Sesuai dengan kondisi lingkungannya, flora di suatu tempat dapat terdiri dari beragam jenis yang masing-masing dapat terdiri dari beragam variasi gen yang hidup di beberapa tipe habitat (tempat hidup). Oleh karena itu, muncullah istilah keanekaragaman flora yang mencakup makna keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetik dari jenis, dan keanekaragaman habitat dimana jenis-jenis flora tersebut tumbuh.

Dalam tulisan ini penulis hanya akan menyampaikan sekilas pandang mengenai keanekaragaman flora pada tingkatan jenis dan habitatnya di Indonesia.

  1. II. SEJARAH SINGKAT PERSEBARAN GEOGRAFI FLORA DI INDONESIA

Pola persebaran flora di Indonesia sama dengan pola persebaran faunanya yang berpangkal pada sejarah pembentukan daratan kepulauan Indonesia pada masa zaman es. Pada awal masa zaman es, wilayah bagian barat Indonesia (Dataran Sunda: Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan) menyatu dengan benua Asia, sedangkan wilayah bagian timur Indonesia (Dataran Sahul) menyatu dengan benua Australia. Dengan demikian, wilayah Indonesia merupakan daerah migrasi fauna dan flora antar kedua benua tersebut. Selanjutnya, pada akhir zaman es, dimana suhu permukaan bumi meningkat, permukaan air lautpun naik kembali, sehingga Pulau Jawa terpisah dari benua Asia, Kalimantan, dan Sumatera. Begitu pula pulau-pulau lainnya saling terpisah satu sama lain.

1)       Disampaikan pada Pelatihan Identifikasi dan Pengelolaan Biodiversity  tanggal 11-15 Mei 2009 di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup-LPPM IPB.

2)       Dosen pada Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB

3)       Dosen pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB

Hasil penelitian biogeografi hewan oleh Wallace menunjukkan bahwa jenis-jenis hewan yang hidup di wilayah bagian barat Indonesia berbeda dengan jenis-jenis hewan di wilayah bagian timur Indonesia, batasnya kira-kira dari Selat Lombok ke Selat Makassar. Garis batas ini dikenal dengan Garis Wallace. Selain Wallace, peneliti berkebangsaan Jerman, Weber, mengadakan penelitian tentang biogeografi fauna di Indonesia, yang hasilnya mencetuskan Garis Weber yang menetapkan batas penyebaran hewan dari benua Australia ke wilayah bagian timur Indonesia.

Berdasarkan hasil proses pembentukan daratan wilayah Indonesia serta hasil penelitian Wallace dan Weber, maka secara geologis, persebaran flora (begitu pula fauna) di Indonesia dibagi ke dalam 3 wilayah, yaitu:

  1. Flora Dataran Sunda yang meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Flora di pulau-pulau tersebut berada di bawah pengaruh flora Asia karena ciri-cirinya mirip dengan ciri-ciri flora benua Asia , disebut juga flora Asiatis yang didominasi oleh jenis tumbuhan berhabitus pohon dari suku Dipterocarpaceae.
  2. Flora Dataran Sahul yang meliputi Papua dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Flora di pulau-pulau tersebut berada di bawah pengaruh benua Australia, biasa disebut flora Australis yang didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan berhabitus pohon dari suku Araucariaceae dan Myrtaceae.
  3. Flora Daerah Peralihan (Daerah Wallace) yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara yang berada di bawah pengaruh benua Asia dan Australia, yang mana jenis tumbuhan berhabitus pohonnya didominasi oleh jenis dari suku Araucariaceae, Myrtaceae, dan Verbenaceae.

Dalam dunia tumbuhan, flora di wilayah Indonesia merupakan bagian dari flora Malesiana. Ditinjau dari wilayah biogeografi, setidaknya  terdapat tujuh wilayah biogeografi utama Indonesia yang menjadi wilayah penyebaran berbagai spesies tumbuhan, yaitu Sumatra, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sunda Kecil, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya (BAPPENAS, 1993).  Berdasarkan tingkat kekayaan relatif dan keendemikan spesies tumbuhan, maka Irian Jaya (Papua) menempati posisi paling tinggi dibandingkan dengan wilayah biogeografi lainnya, diikuti Kalimantan dan Sumatera (Tabel 1).

Tabel 1.     Perbandingan Kekayaan Spesies dan Keaslian (endemisme) Spesies Tumbuhan di Tujuh Wilayah Biogeografi Indonesia

No. Wilayah Kekayaan spesies Persentase spesies endemik
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Sumatera

Jawa

Kalimantan

Sulawesi

Sunda Kecil

Maluku

Irian Jaya (Papua)

820

630

900

520

150

380

1030

11

5

33

7

3

6

55

Sumber: FAO/MacKinnon (1981).

Berdasarkan habitatnya, penyebaran tersebut selain di kawasan budidaya sebagian besar terdapat di dalam kawasan hutan. Untuk tumbuhan obat misalnya, sekitar 42% terdapat di hutan hujan tropika dataran rendah, 18% di hutan musim, 4% di hutan pantai dan 3% di hutan mangrove. Untuk jenis paku-pakuan, tercatat penyebarannya di Sumatera sebanyak 500 spesies, Kalimantan 1.000 spesies, Jawa-Bali/NTB/NTT 500 spesies, Sulawesi 500 spesies, Kepulauan Maluku 690 spesies dan Papua 2.000 spesies. Perkiraan jumlah spesies di setiap wilayah penyebaran tersebut boleh jadi ada tumpang tindih antara satu pulau dengan lainnya, namun ada juga spesies endemik (Kato dalam Santosa 1996).

III. SUMBERDAYA FLORA DI INDONESIA

3.1. Keanekaragaman Spesies Flora

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di kawasan tropis antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik) yang terdiri atas sekitar 17.500 pulau dengan panjang garis pantai sekitar 95.181 km. Wilayah Indonesia luasnya sekitar 9 juta km2 (2 juta km2 daratan, dan 7 juta km2 lautan). Luas wilayah Indonesia ini hanya sekitar 1,3% dari luas bumi, namun mempunyai tingkat keberagaman kehidupan yang sangat tinggi. Untuk tumbuhan, Indonesia diperkirakan memiliki 25% dari spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia atau merupakan urutan negara terbesar ketujuh dengan jumlah spesies mencapai 20.000 spesies, 40% merupakan tumbuhan endemik atau asli Indonesia. Famili tumbuhan yang memiliki anggota spesies paling banyak adalah Orchidaceae (anggrek-anggrekan) yakni mencapai 4.000 spesies. Untuk jenis tumbuhan berkayu, famili Dipterocarpaceae memiliki 386 spesies, anggota famili Myrtaceae (Eugenia) dan Moraceae (Ficus) sebanyak 500 spesies dan anggota famili Ericaceae sebanyak 737 spesies, termasuk 287 spesies Rhododendrom dan 239 spesies Naccinium (Whitemore 1985 dalam Santoso 1996).

Kartawinata (2005) melaporkan beberapa hasil studi mengenai keragaman jenis tumbuhan pada berbagai tipe vegetasi/hutan di beberapa pulau utama Indonesia seperti tertera pada Tabel 2.

Tabel 2.  Keragaman jenis tumbuhan pada berbagai tipe vegetasi/hutan di beberapa pulau utama Indonesia

Locality Alt.(m) Plot size (ha) Mean density (Trees/ha) Number of Species Reference
1 2 3 4 5 6
DRYLAND FOREST
East Kalimantan
Malinau 1 100 12.0 759 225 Karrtawijaya et al. (in Prep.)
Malinau 2 100 2 x 1.0 413 240 Yusuf (2003)
Malinau 3 100 4 x 1.0 606 404 Samsoedin ( in Prep. )
Berau <100 3 x 4.0 521 538 Sist & Saridan (1999)
Wanariset Samboja 1 <100 10.5 567 562 Kartawinata (unpublished)
Wanariset Samboja 2 <100 1.5 541 239 Kartawinata et al. (1981)
Lempake <100 1.6 445 209 Riswan, S. (1987)
Sungai Barang
Site 1 700–770 4 x 0.16 719 179 Bratawinata (1986)
Site 2 850–930 4 x 0.16 838 78 Bratawinata (1986)
Site 3 930–990 4 x 0.16 785 157 Bratawinata (1986)
Site 4 1100–1350 4 x 0.16 648 117 Bratawinata (1986)
Site 5 1350–1560 4 x 0.16 785 156 Bratawinata (1986)
Site 6 1780–1920 4 x 0.16 654 106 Bratawinata (1986)
West Kalimantan
Muara Kendawangan N.R.
Hill forest 30 0.3 770 33 Purwaningsih & Amir (2001)
Central Kalimantan
Wanariset Sangai 15 584± 72 1298 Wilkie et al. (2004)
Bukit Karung 300-900 4×0.15 598 225 Riswan S.(2002)
North Sumatra
Gunung Leuser N.P.
Ketambe 1 460-670 1.6 538 116 Abdulhadi et al. (1989)
Ketambe 2 350-450 1.6 420 94 Abdulhadi (1991)
Ketambe 3 350-450 1.6 475 127 Abdulhadi et al. (1991)
Batang Gadis N. P.
Aek Nangali 660 1 538 182 Kartawinata et al.(2004)
Riau
Bukit Tiga Puluh N.P.
Bukit Lawang 297 1.0 453 216 Polosokan (2001)
North Sulawesi
Toraut 1 408 109 Whitmore & Sidiyasa (1986)
Lore Lindu N.P.
Plot 1 500 0.3 323 30 Purwaningsih & Yusuf (2005)
Plot 2 750 0.3 570 47 Purwaningsih & Yusuf (2005)
Plot 3 1000 0.3 567 41 Purwaningsih & Yusuf (2005)
B.N. Wartabone N.P.
Dudepo 180 0.4 610 64 Rahayoe et al. (1996)
Tanganga 1 200 0.2 410 31 Rahayoe et al. (1996)
Tabel 2. Lanjutan
Locality Alt.(m) Plot size (ha) Mean density (Trees/ha) Number of Species Reference
1 2 3 4 5 6
Tanganga 2 200 0.2 480 21 Rahayoe et al. (1996)
Gunung Kabela 1 150 0.26 323 46 Polosokan & Siregar (2001)
Gunung Kabela 2 250 0.2 430 45 Polosokan & Siregar (2001)
Gunung Kabela 3 300 0.2 485 33 Polosokan & Siregar (2001)
Gunung Kabela 4 400 0.2 575 61 Polosokan & Siregar (2001)
Central Sulawesi
Sausu 45-85 0.4 770 68 Sidiyasa (1995)
South Sulawesi
Wotu 0.4 725 62 Sidiyasa (1988)
South East Sulawesi
Wawoni Island
Lampeapi < 300 11 x 0.09 568 91 Rahayoe et al. (2004b)
Lansinowo 1 100 0.5 436 50 Purwaningsih (2003)
Lansinowo 2 300 0.5 492 40 Purwaningsih (2003)
Lansinowo 3 500 0.3 813 9 Purwaningsih (2003)
North Buton W.R.
Gunung Wani 1 300 0.5 462 60 Mansur & Wardi (2004)
Gunung Wani 2 400 0.5 442 49 Mansur & Wardi (2004)
Soloi 100 0.5 554 60 Mansur (2003)
Maluku
Halmahera 630 0.5 742 76 Whitmore et al. (1987)
Papua
Wamena : Wanduga 2800 0.5 528 28 Partomihardjo & Supardiyono (1993)
Wamena : Tengon 1600 0.15 813 38 Partomihardjo (1991)
Wamena : Kurulu 1600-2350 0.7 564 76 Partomihardjo (1991)
Yapen Tengah N.R. 600-1200 14 x 0.1 799 235 Partomihardjo (1991)
Supiori N.R. 1-Slope 320 0.5 1024 93 Siregar (2001)
Supiori N.R. 2-Flat ridge 320 0.5 1010 77 Siregar (2001)
Central Java
Karimun Jawa N.P.
Plot 1 100 m 0.4 738 68 Yusuf et al. (2004)
Plot 2 200 m 0.4 725 71 Yusuf et al. (2004)
Plot 3 300 m 0.4 866 56 Yusuf et al. (2004)
West Java
Gunung Halimun N.P.
Purwabakti: 2 nd forest 900 1.0 441 69 Yusuf (2004)
Citalahab : 2 nd forest 1000-1200 0.7 395 51 Rahayoe (1996)
Citorek: Plot Group 1 905-1127 5 x 0.1 530 56 Mirmanto & Simbolon (1998)
Plot Group 2 761-893 5 x 0.1 384 61 Mirmanto & Simbolon (1998)
Plot Group 3 784-939 2 x 0.1 106 26 Mirmanto & Simbolon (1998)
Cikaniki 850-1500 26 x 0.09 601 73 Mirmanto & Simbolon (1997)
Cikelat 1000-1600 21 x 0.09 624 80 Mirmanto & Simbolon (1997)
Cisarua 1100-1500 13 x 0.09 408 85 Mirmanto & Simbolon (1997)
Cisangku 1050-1800 13 x 0.09 671 84 Mirmanto & Simbolon (1997)
Tabel 2. Lanjutan
Locality Alt.(m) Plot size (ha) Mean density (Trees/ha) Number of Species Reference
1 2 3 4 5 6
Gunung Gede-Pangrango N.P.
Cibodas 1 1500-1900 4.0 889 93 Abdulhadi et al.(1998)
Cibodas 2 1600 1.0 427 57 Yamada (1975)
Cibodas 3 1700 0.1 450 19 Yamada (1977)
Cibodas 4 1900 0.1 560 15 Yamada (1977)
Cibodas 5 2100 0.1 840 14 Yamada (1977)
Cibodas 6 2300 0.1 1100 11 Yamada (1977)
Cibodas 7 2400 0.4 1516 10 Yamada (1976)
Cibodas 8 2600 0.04 2225 8 Yamada (1977)
Cibodas 9 2800 0.04 1100 7 Yamada (1977)
Cibodas 10 3000 0.04 3829 9 Yamada (1977)
PEAT SWAMP FOREST
Sumatera
Teluk Kiambang < 100 0.2 752 34 Anderson (1976)
Muara Tolam < 100 0.2 705 46 Anderson (1976)
Sungai Siak Kecil < 100 0.2 831 50 Anderson (1976)
Bengkalis 1 < 100 0.24 584 33 Siregar (2002)
Bengkalis 2 < 100 0.24 801 28 Siregar (2002)
West Kalimantan
Sungai Durian <100 0.2 1006 39 Anderson (1976)
Sungai Sebangan <100 0.2 1200 50 Anderson (1976)
Sungai Pinyuh & Mandor 30-60 1.6 342 119 Mirmanto et al.(1993)
FRESH WATER SWAMP FOREST
East Kalimantan
Sesayap >100 1.0 400 76 Suhardjono & Wiriadinata (1984)
West Kalimantan
Kedawangan N.R.
Freshwater swamp 15 0.3 590 17 Purwaningsih & Amir (2001)
Semi-swamp 20 0.3 390 54 Purwaningsih & Amir (2001)
KERANGAS (HEATH) FOREST
East Kalimantan
Samboja 1 <100 0.5 750 24 Riswan (1987b)
Samboja 2 <100 0.5 554 14 Riswan (1987b)

Untuk jenis paku-pakuan, Indonesia juga tercatat memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi mencapai lebih 4000 spesies tersebar hampir di seluruh wilayah Nusantara.  Untuk jenis rotan, tercatat ada sekitar 332 spesies terdiri dari 204 spesies dari genera Calamus, 86 spesies dari genera Daemonorps, 25 spesies dari genera Korthalsia, 7 spesies dari genera Ceratolobus, 4 spesies dari genera Plectocomia, 4 spesies dari genera Plectocomiopsis dan 2 spesies dari genera Myrialepsis. Selain itu banyak juga jenis-jenis keanekaragaman tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat di Indonesia. Menurut catatan WHO sekitar 20.000 spesies tumbuhan dipergunakan oleh penduduk dunia sebagai obat. Zuhud & Haryanto (1994) mencatat ada sekitar 1.260 spesies tumbuhan yang secara pasti diketahui berkhasiat obat.

Indonesia juga tercatat sebagai salah satu pusat Vavilov yaitu pusat sebaran keanekaragaman genetik tumbuhan budidaya/pertanian untuk tanaman pisang (Musa spp.) pala (Myristica fragrans), cengkeh (Syzygium aromaticum), durian (Durio spp.) dan rambutan (Nephelium spp.)

Hutan Indonesia juga diketahui memiliki keanekaragaman jenis pohon palem (Arecaceae) tertinggi di dunia, lebih dari 400 spesies (70%) pohon meranti (Dipterocarpaceae) terbesar di dunia sebagai jenis kayu tropika primadona, dan memiliki 122 spesies bambu dari 1.200 spesies bambu yang tumbuh di bumi. Tingginya kekayaan keanekaragaman tumbuhan tersebut juga ditunjukkan oleh kekayaan di hutan Kalimantan. Misalnya, dalam satu hektar dapat tumbuh lebih dari 150 spesies pohon yang berlainan, tercatat 3.000 spesies pohon, serta memiliki 19 dari 27 spesies durian yang terdapat di kawasan Melanesia. Indonesia juga memiliki lebih dari 350 jenis rotan dan merupakan penghasil ¾ rotan dunia.

Meskipun dari jumlah spesies tumbuhan, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kekayaan tumbuhan yang tinggi, namun sayang potensi sumberdaya genetik yang terkandung di dalamnya belum diketahui semuanya. Hanya sebagian kecil spesies tumbuhan yang telah diketahui informasi sumberdaya genetiknya, terutama untuk jenis-jenis yang telah dikembangkan pemanfaatannya secara komersial.

3.2.  Status Kelangkaan

Eksploitasi terhadap keanekaragaman hayati, penebangan liar, konversi kawasan hutan menjadi areal lain, perburuan dan perdagangan liar adalah beberapa faktor yang menyebabkan terancamnya keanekaragaman hayati. Untuk mendorong usaha penyelamatan sumberdaya alam yang ada, dan adanya realitas meningkatnya keterancaman dan kepunahan sumberdaya hayati, maka ditetapkan adanya status kelangkaan suatu spesies. Indonesia merupakan negara dengan tingkat keterancaman dan kepunahan spesies tumbuhan tertinggi di dunia dan merupakan hot-spot kepunahan satwa. Tercatat sekitar 240 spesies tanaman dinyatakan langka, diantaranya banyak yang merupakan spesies budidaya.  Paling sedikit 52 spesies keluarga anggrek, 11 spesies rotan, 9 spesies bambu, 9 spesies pinang, 6 spesies durian, 4 spesies pala, dan 3 spesies mangga (Mogea et al., 2001).  Selain itu ada 44 spesies tanaman obat dikategorikan langka, seperti pulasari, kedawung, jambe, pasak bumi, gaharu, sanrego (Rifai et al., 1992; Zuhud et al., 2001) (Tabel 3).

Tabel 3.  Beberapa spesies tumbuhan obat yang dikategorikan langka

No. Nama Lokal/ Perdagangan Nama Ilmiah Bagian yang digunakan
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.

42.

43.

44.

Kayu rapet

Pulasari

Pulasari

Secang

Kedawung

Mesoyi

Kemukus

Rasuk angin

Jambe

Pasak bumi

Sidowayah

Kunci pepet

Nagasari

Purwoceng

Sukmodiluwih

Sintok lekat

Bidara laut

Pulai

Kayu ules

Joholawe

Pranajiwo

Bidara upas

Patmosari

Padma

Pelir musang

Gaharu

Gaharu

Paku simpai

Kulit lawang

Temu putri

Puar tenganau

Ki lembur

Kayu pedang

Petir

Perlutan

Cetek

Ki sariawan

Hamperu bebek

Sanrego

Pule pandak

Kemuning

Tabat barito

Asem glugur

Kluwek

Parameria laevigata

Alyxia halmaherai

A. reinwardtii

Caesalpinia sappan

Parkia roxburghii

Cryptocarya massoi

Piper cubeba

Usnea misaminensis

Areca catechu

Eurycoma longifolia

Woodfordia floribunda

Kaempferia angustifolia

Mesua ferrea

Pimpinella pruatjan

Gunnera macrophylla

Cinnamomum sintoc

Strychnos ligustrina

Alstonia scholaris

Helicteres isora

Terminalia balerica

Euchresta horsfIeldii

Merremia mammosa

Rafflesia patma

R. zollingeriana

Anaxagorea javanica

Aquilaria beccariana

A. malaccensis

Cibotium barometz

Cinnamomum culilaban

Curcuma petiolata

Elettariopsis sumatrana

Kadsura scandens

Oroxylum indicum

Parkia intermedia

Scutellaria javanica

Strychnos ignatii

Symplocos odoratissima

Voacanga grandifolia

Lunasia amara

Rauvolfia serpentina

Murraya paniculata

Ficus deltoidea

Tamarindus indicus

Pangium edule

Kulit kayu

Akar

Akar

Kayu

Biji

Kulit kayu

Buah

Talus daun

Seluruh bagian

Akar

Bunga

Rimpang

Bunga

Akar

Kembang

Kulit

Kayu

Kulit

Daun

Buah

Biji

Umbi

Bunga

Bunga

Daun

Kayu

Kayu

Rimpang

Kulit

Rimpang

Daun, rimpang

Kulit

Akar, kayu

Biji

Kulit batang/daun

Biji

Daun, kulit batang

Akar

Daun, bunga

Akar

Buah

Buah

Sumber: Rifai et al. (1992), Zuhud et al. (2001)

Dari catatan lain untuk dunia flora, juga diketahui sekitar 36 spesies kayu di Indonesia terancam punah, termasuk kayu ulin di Kalimantan Selatan, sawo kecik di Jawa Timur, Bali Barat dan Sumbawa, kayu hitam di Sulawesi, dan kayu pandak di Jawa.  Pakis haji (Cycas rumphii) yang pernah populer sebagai tanaman hias kini sulit ditemukan di alam, demikian pula Pakis hias (Ponia sylvestris), Anggrek jawa (Phalaenopsis javanica) dan sejenis rotan (Ceratobulus glaucescens) kini hanya tinggal beberapa batang di pantai selatan Jawa Barat.  Bahkan Whitten (1994) dalam Suhirman et al.(1994) menduga bahwa tiga spesies anggrek endemik Jawa telah punah, yaitu spesies Habenaria giriensis, Plocoglottis latifolia dan Zeuxine tjiampeana.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999 terdapat tidak kurang dari 58 spesies tumbuhan yang termasuk kedalam 6 famili yang dilindungi, diantarannya yaitu keluarga talas-talasan (miss. Amorphohalus titanum), palem (Ceratolobus glaucencens), anggrek (Phalaenopsis javanica), kantong semar (Nephenthes spp.), bunga patma (Rafflesia spp) dan meranti (Shorea spp.).  Daftar spesies satwa yang dilindungi dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Spesies tumbuhan yang dilindungi (Berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999)

TUMBUHAN
I. ARACEAE
1 Amorphophallus decussilvae Bunga bangkai jangkung
2 Amorphophallus titanum Bunga bangkai raksasa

II.  PALMAE

3 Borrassodendron borneensis Bindang, Budang
4 Caryota no Palem raja/Indonesia
5 Ceratolobus glaucescens Palem Jawa
6 Cystostachys lakka Pinang merah Kalimantan
7 Cystostachys ronda Pinang merah Bangka
8 Eugeissona utilis Bertan
9 Johanneste ijsmania altifrons Daun payung
10 Livistona spp. Palem kipas Sumatera (semua jenis dari genus Livistona)
11 Nenga gajah Palem Sumatera
12 Phoenix paludosa Korma rawa
13 Pigafatta filaris Manga
14 Pinanga javana Pinang Jawa
II. RAFFLESSIACEA
15 Rafflesia spp. Rafflesia, Bunga padma (semua jenis dari genus Rafflesia)
III. ORCHIDACEAE
16 Ascocentrum miniatum Anggrek kebutan
17 Coelogyne pandurata Anggrek hitan
18 Corybas fornicatus Anggrek koribas
19 Cymbidium hartinahianum Anggrek hartinah
20 Dendrobium catinecloesum Anggrek karawai
21 Dendrobium d’albertisii Anggrek albert
22 Dendrobium lasianthera Anggrek stuberi
23 Dendrobium macrophyllum Anggrek jamrud
24 Dendrobium ostrinoglossum Anggrek karawai
25 Dendrobium phalaenopsis Anggrek larat
26 Grammatophyllum papuanum Anggrek raksasa Irian
27 Grammatophyllum speciosum Anggrek tebu
28 Macodes petola Anggrek ki aksara
29 Paphiopedilum chamberlainianum Anggrek kasut kumis
30 Paphiopedilum glaucophyllum Anggrek kasut berbulu
31 Paphiopedilum praestans Anggrek kasut pita
32 Paraphalaenopsis denevei Anggrek bulan bintang
33 Paraphalaenopsis laycockii Anggrek bulan Kaliman Tengah
34 Paraphalaenopsis serpentilingua Anggrek bulan Kaliman Barat
35 Phalaenopsis amboinensis Anggrek bulan Ambon
36 Phalaenopsis gigantea Anggrek bulan raksasa
37 Phalaenopsis sumatrana Anggrek bulan Sumatera
38 Phalaenopsis violacose Anggrek kelip
39 Renanthera matutina Anggrek jingga
40 Spathoglottis zurea Anggrek sendok
41 Vanda celebica Vanda mungil Minahasa
42 Vanda hookeriana Vanda pensil
43 Vanda pumila Vanda mini
44 Vanda sumatrana Vanda Sumatera
IV. NEPHENTACEAE
45 Nephentes spp. Kantong semar (semua jenis dari genus Nephentes)
V. DIPTEROCARPACEAE
46 Shorea stenopten Tengkawang
47 Shorea stenoptera Tengkawang
48 Shorea gysberstiana Tengkawang
49 Shorea pinanga Tengkawang
50 Shorea compressa Tengkawang
51 Shorea semiris Tengkawang
52 Shorea martiana Tengkawang
53 Shorea mexistopteryx Tengkawang
54 Shorea beccariana Tengkawang
55 Shorea micrantha Tengkawang
56 Shorea palembanica Tengkawang
57 Shorea lepidota Tengkawang
58 Shorea singkawang Tengkawang

IV. KLASIFIKASI EKOSISTEM

Kartawinata telah membuat bagan unit-unit ekosistem atau tipe-tipe ekosistem darat dan rawa yang ada di Indonesia. Tipe ekosistem dianggap unit-unit yang paling kecil dan dibentuk berdasarkan fisiognomi (kenampakan) struktur dan takson (unit taksonomi) yang khas atau dominan dari vegetasi yang dikombinasikan dengan faktor-faktor iklim dan ketinggian dari permukaan laut serta tanah. Faktor-faktor fisik lingkungan lainnya tidak dimasukkan karena datanya kurang, lagipula perincian ekosistem dengan cirri-ciri vegetasi dan lingkungan dapat dianggap cukup. Berdasarkan komposisi jenis masing-masing tipe ekosistem dapat saja terdiri dari unit-unit yang lebih kecil. Ekosistem hutan kerangas misalnya, mungkin tersusun dari unit komunitas Combretocarpus-Dactylocladus dan Tristania-Cratoxylum.

Menurut Klasifikasi Kartawinata (1976) ini, ada tiga tingkatan klasifikasi, yaitu: Bioma, Subbioma, dan Tipe Ekosistem. Bioma dapat pula disebut sebuah ekosistem yang merupakan unit komunitas terbesar yang mudah dikenal dan terdiri atas formasi vegetasi dan hewan serta makhluk hidup lainnya, baik yang sudah mencapai fase klimaks maupun yang masih dalam fase perkembangan. Di Indonesia dapat dikenal beberapa bioma, yaitu: (a) Hutan Hujan, (b) Hutan Musim, (c) Savana, dan (d) Padang Rumput. Unit-unit ekosistem ini masih terlalu besar untuk digunakan dengan maksud-maksud khusus, sehingga memerlukan pembagian yang lebih kecil lagi.

Pembagian Bioma menjadi Subbioma didasarkan pada keadaan iklim, misalnya untuk Hutan Hujan dibedakan antara Hutan Hujan Tanah Kering dan Hutan Hujan Tanah Rawa (permanen atau musiman). Sedangkan pembagian tipe-tipe ekosistem sebagai unit yang paling kecil dibentuk berdasarkan struktur fisiognomi, faktor-faktor iklim, ketinggian dari permukaan laut, dan jenis tanah.

Klasifikasi ekosistem menurut Kartawinata tertera dalam Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Satuan-satuan ekosistem di Indonesia berdasarkan struktur fisiognomi, faktor-faktor iklim, ketinggian dari permukaan laut, dan jenis tanah (Kartawinata, 1976)

Bioma Subbioma Tipe Ekosistem
Nama Iklim Nama Nama Ketinggian dpl (m) Suhu rata-rata (o) Q Tanah Takson/khas/umum/dominan
I. Hutan Hujan Selalu basah sampai kering tengah-tahun  Q<60.0 1. Hutan Hujan Tanah Kering (1) Hutan hujan Non-Dipterocarpaceae <1000 26-21 <33.3 podsolik merah, kuning, latosol Anacardiaceae, Annonaceae, Burseraceae, Ebenaceae (Dyospyros), Euphorbiaceae, Gutiferae, Lauraceae, Leguminosae, Moraceae (Ficus), Myristicaceae, Palmae, Sapindaceae, Sterculiaceae, dsb.
(2) Hutan Dipterocarpaceae campuran <1000 26-21 <33.3 podsolik merah, kuning, latosol Dipterocarpaceae (Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Shorea, Vatica)
(3) Hutan Agathis campuran <2500 26-13 < 60.0 podsolik merah, kuning, latosol, podsol Agathis sp.
(4) Hutan pantai <5 ± 26 < 60.0 regosol Barringtonia asiatica, Calophyllum inophyllum, Casuarina equisetifolia, Hernandia peltata, Terminalia catappa, Guettarda speciosa, Pandanus tectorius, dsb.
(5) Belukar <1000 26-21 < 60.0 podsolik merah, kuning, latosol, podsol Macaranga, Mallotus, Vitex, Trema, Melastoma, Endospermum, dsb.
(6) Hutan Pagaceae 1000-2000 21-26 andosol, regosol, pada abu gunung Castanopsis, Lithocarpus, Quercus, Ángel hardia, Podocarpus, Altingia, Magnoliaceae, Phyllociadus, Dacrydium
(7) Hutan Casuarina 1000-2000 21-11 < 60.0 andosol, regosol, litosol Casuarina Junghuhniana
(8) Hutan Pinus 700-1000 23-18 < 60.0 andosol, regosol, litosol Pinus merkusii
(9) Hutan Nothofagus 1000-3000 21-11 <14.3 regosol, litosol Nothofagus spp.
(10) Hutan Ericaceae 1500-2400 18-23 <14.3 andosol, regosol Rhododendron, Vaccinium, Styphella coprosma, Anaphalis, dsb.
(11) Hutan Araucaria 1500-3000 18-11 <14.3 regosol, litosol Araucaria cuninghamii
(12) Hutan Konifer 2400-4000 13-6 Litosol, regosol Podocarpus papuanus, Libocedrus, Dacrydium, Phyllocladus, dsb.
(13) Semak 4000 <6 litosol Rhododendron, Vaccinium, Styphella coprosma, Anaphalis, dsb.
2. Hutan hujan tanah rawa (permanen atau musiman) (14) Hutan rawa <100 ± 26 <33.3 organosol, aluvial Barringtonia spicata, Camnosperma, Cocceras, Alstonia, Gluta rengas, Lophopetalum, Mangifera gedebe, Pentaspadon metleui, Metroxylon, Pandanus.
(15) Hutan rawa gambut <100 ± 26 <33.3 organosol Calophyllum, Combretocarpus rotundatus, Cratoxylon glaucum, Durio carinatus, Tetramerista glabra, Tristania, Pholidocarpus, Melanorrhoea, Pandanus, Parastemon, Agathis, Shorea balangeran, dsb,
(16) Hutan rawa gambut <1000 26-23 < 60.0 podsol Dactyloccladus, Tristania obovata, Shorea balangeran, Dacridium clatum, Cratoxylum glaucum, Combretocarpus rotundus, Calophyllum, dsb.
(17) Hutan Melaleuca (sekunder) <100 ± 26 < 60.3 organosol, aluvial Melaleuca leucadendron
(18) Hutan payau (mangrove) <5 ± 26 < 60.0 aluvial Rhizophora, Bruguiera, Avicenia, Sonneratia, dsb.
II. Hutan Musim Sangat kering tengah tahun; Q>60.0 (tipe D-F); curah hujan per tahun 700-2900 3. Hutan musim (19) Hutan musim gugur daun <800 >22 < 60.0 mediteran merah kuning, renzina regosol, litosol Protium javanicum, Tectona grandis, Swietenia macrophylla, Pterocarpus, Garuga floribunda, Eucalyptus, Acacia cophioea, dsb.
(20) Hutan musim selalu hijau (Dryever green) <1200 >20 < 60.0 mediteran merah kuning, renzina regosol, litosol Schleicera oleaosa, Schoutenia ovata, Tamarindus indica, Albizia chinensis, dsb.
III. Savana Selalu basah sampai Sangat kering tengah tahun; Q=0-300 (tipe A-F); curah hujan per tahun 700-7100 4. Sabana (21) Sabana pohon dan palma <900 >22 < 60.0 mediteran merah kuning, renzina regosol, litosol Borassus, Corypha, Acacia, Eucalyptus, Casuarina/Themeda, Heterophagon, dsb.
(22) Sabana Casuarina 1500-2400 18-13 < 60.0 andosol, regosol, litosol Casuarina/Themeda, Pennistum, dsb.
IV. Padang rumput Selalu basah sampai Sangat kering tengah tahun; Q=0-300 (tipe A-F); curah hujan per tahun 700-7100 5. Padang rumput iklim basah (23) Padang rumput tanah rendah <1000 26-21 < 60.0 podsolik merah kuning, latosol, litosol Imperata cilíndrica, Saccharum spontaneum, Themeda vilosa, dsb.
(24) Rawa rumput dan terna tanah rendah <100 ± 26 < 60.0 organosol, aluvial Panicum stangineum, Phragintes karka, Scirpus, Cyperus, Cladium, Fimbristylis, Eguisetum, Monochoria, Ischaemum, Eichornia crassipes, dsb.
(25) Padang rumput pegunungan 1500-2400 18-23 < 60.0 andosol, regosol, litosol Festuca, Agrostis, Themeda, Cymbopogon, Ischeum, Imperata cylindrica, dsb.
(26) Padang rumput berawa gunung 1500-2400 18-23 < 60.0 regosol, litosol Pragmites karka, Panicum, Machelina, Schipus, Cares, dsb.
(27)Padang rumput alpin 4000-4500 (batas salju) <6 litosol Deschamsia, Pesluca, Manostachya, Aulacolepis, Oreobolus, Scirpus, Potentilia, Ranyneolus, Epilobium, Spagnum, dsb.
(28) Komunitas dan lumut kerak >4500 6 litosol Lumut-lumut kerak, Agrastis, dsb.
6. Padang rumput iklim kering (29) Padang rumput iklim kering <900 <22 < 60.0 mediteran merah kuning, regosol, litosol, renzina Themedia, Heteropogon, dsb.

Khusus untuk flora pegunungan, van Steenis pada tahun 1972 dalam bukunya yang berjudul The Mountain Flora of  Java mengemukakan batas-batas orografik dari flora pegunungan Malesia seperti tertera pada Tabel 6.

Tabel 6. Batas-batas orografik dari flora pegunungan Malesia.

Elevasi (mdpl) Vegetasi Zonasi Keterangan
-5-1 ZONA LITORAL (lamun dan alga) ZONA LAUT VEGETASI POHON ALAMI
-1-0.25 MANGROVE ZONA PANAS
0.25-1 FLORA PANTAI
1-5 BARRINGTONIA & GUMUK PASIR
5-500 ZONA PAMAH
500-1000 ZONA BUKIT
1000 – 1500 Hutan tertutup berbatang pohon tinggi dan miskin akan lumut ZONA SUBPEGUNUNGAN
1600-2000 Hutan tertutup berbatang pohon tinggi di atas elevasi 2000 m, dengan diameter batang yang bertambah kecil dan lumut yang bertambah banyak ZONA PEGUNUNGAN
2100-2400
2500-3300 Hutan rapat rendah dengan pohon-pohon tinggi, menyendiri, sering berlumut, atau terdapat konifera ZONA SUBALPIN
3400-3600 BATAS HUTAN
3700-3900 Semak-semak rendah menyendiri atau berupa rumput atau konifera
4000 BATAS POHON
4100-4500 GURUN BATU

Dengan lumut, lumut kerak dan beberapa Fanerogam, terutama rumput dan teki

ZONA ALPIN VEGETASI TERNA ALPIN ALAMI
4600-5000 SALJU ABADI ZONA SALJU (NIVAL ZONE)

1)       Disampaikan pada Pelatihan Identifikasi dan Pengelolaan Biodiversity  tanggal 11-15 Mei 2009 di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup-LPPM IPB.

2)       Dosen pada Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB

3)       Dosen pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.